Jaksa Geram, Jonson Dituntut Hukuman Maksimal

BALIKPAPAN-Pengakuan Jonson Rumakang (20) yang tiba-tiba membantah telah membunuh bibinya, Anneke Anna Adam Mangala (57) warga Blok B no 23 RT 103 selaku Manajer Pemasaran Perumahan Bukit Damai Sentosa (BDS) II, membuat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Prima Gunawan SH, geram.

Tak ayal, JPU menjerat tuntutan hukuman maksmimal, yakni hukuman 15 tahun seperti yang tertuang dalam pasal 338 KUHP, dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain. Saat pembacaan tuntutan, Senin (3/1) siang, di hadapan majelis hakim yang diketuai Ridwantoro SH beranggotakan Frans SH dan John SH, jaksa Prima Gunawan tidak menyebutkan satu pun hal-hal yang meringankan, meski usia Jonson masih muda dan masih bisa dibina lagi menjadi warga yang baik.

Jaksa memang menjadikan sikap Jonson yang membantah membunuh tantenya sebagai pertimbangan memberatkan hukuman karena tidak kooperatif dan berbelit-belit dalam persidangan. “Terdakwa Jonson Rumakang secara sah terbukti membunuh tantenya sendiri, Anneke Anna Adam Mangala. Karena itulah, kami minta agar terdakwa dihukum penjara selama 15 tahun,” ujar Prima Gunawan.

Jaksa juga meminta agar barang-barang milik mendiang Anneke Anna Adam Mangala berupa Tab Samsung Galaxi, HP merek Samsung, HP BlackBerry, uang Rp1,165 juta dan 15 kartu kredit dan ATM, dikembalikan kepada anak atau ahli waris. Jonson yang selama pembacaan tuntutan menundukkan kepalanya, sontak terkejut saat hakim ketua, Ridwantoro menegurnya.

“Bagaimana terdakwa, sudah mengerti tuntutan jaksa? Silakan konsultasi dengan penasihat hukum kamu,” ujar Ridwantoro. “Iya Pak,” ujarnya lirih lalu beranjak dari kursi pesakitan menghampiri dua pengacaranya, Jantje Rumimpunu SH dan Yohanes Maroko SH.

Setelah berbisik sebentar, kuasa hukum pun angkat bicara. “Mohon izin yang mulia, kami akan mengajukan pledoi (pembelaan) hari Senin (10/2) mendatang,” kata Jantje. Semula majelis hakim meminta agar penyampaian pledoi digelar Kamis (6/2) besok, namun kuasa hukum Jonson bersikukuh meminta hari Senin (10/2) dengan alasan banyak agenda persidangan lain yang harus dijalani.

Majelis hakim pun menyetujui. “Dengan catatan, apabila hari Senin (10/2) mendatang pledoi belum siap juga, maka sidang tetap dilanjutkan dengan agenda putusan. Supaya sidangnya cepat selesai,” ujar hakim Ridwantoro.

Usai persidangan, Jonson bersikukuh bahwa dirinya bukan pembunuh tantenya, Anneke Anna Adam Mangala. “Bukan saya. Saya cuma ambil barang-barangnya aja,” akunya. Saat didesak siapa pelakunya, pemuda lulusan SMA Tumohon ini mengatakan tidak tahu. “Kejadiannya cepat, seperti ada yang lari keluar lewat jendela,” ujarnya. Sedangkan pengacara Yohanes Maroko meyakini yang dikatakan Jonson benar.

Dia berasumsi setelah kejadian Jonson ikut mengantar korban ke RS Siloam. Saat itu, badan dan pakaian Jonson bersih, tidak ada ceceran darah. “Logikanya gini, kalau menyembelih ayam, pasti ada ceceran atau percikan darah di tangan atau di baju. Lha, ini korban ditikam berkali-kali, tetapi Jonson bersih tidak ada percikan darah. Kalau dia yang menikam, pasti ada cipratan darah di tubuh atau bajunya,” ujar Yohanes.

Pengacara Jantje Rumimpunu menambahkan, bantahan Jonson menjadi “PR” polisi untuk membongkar lagi kasus pembunuhan Anneke Anna Adam Mangala. “Kami berharap polisi menyelidiki lagi siapa sebenarnya pelaku pembunuhan korban. Menurut kami, Jonson hanya terkena pasal pencurian. Saat korban terluka, memanfaatkan kesempatan mengambil uang dan barang-barang berharga milik korban. Lihat saja nanti pledoi kami bagaimana,” ujarnya.

Untuk mengingatkan lagi, kasus pembunuhan tersebut terjadi Senin 20 Mei 2013 pukul 04.00 Wita. Anneke Anna Adam Mangala (57) warga Blok B no 23 RT 103 selaku Manajer Pemasaran Perumahan BDS II, ditemukan bersimbah darah di kamar, menderita banyak luka tusuk di tubuhnya. Wanita itu meregang nyawa saat dilarikan ke RS Siloam.

Dari hasil penyelidikan polisi, pelakunya tak lain keponakan korban sendiri yang baru datang dari Manado, Jonson Rumakang (20), lulusan SMA kelahiran Tumohon 27 Oktober 1994. Hal ini tersingkap karena HP Blackberry milik korban, ada di kantong celananya, berdering saat ditelepon polisi.(ono)

Sumber Balikpapan Pos

160 total views, 1 views today

Suka(0)Tidak Suka(0)